Kembali kita bercerita pendek setelah pesta irau berlangsung yaitu masing masing dari tujuh saudara atau (tian pitu jong) tadi berpisah menyebar ke seluruh provinsi lampung dan yang terjauh ada di provinsi banten.
Secara
adat istiadat masing masing mereka ini membawa barang simpanan keluarga bias dikatakan
benda pusaka sebagai bahan bukti dari daerah asa mereka untuk jadi bahan cerita
bagi anak cucu dan cicit merekan di kemudian hari atau berabad tahun kedepan
sejak masa itu.
Saya
pernah menerangkan dalam legenda cerita sebelumnya
bahwa ada dari mereka yang pindah ke dua tempat yaitu satu penggawa lima tengah krui,
dan tanjungan lampung selatan untuk yang di lampung selatan infonya kalau lewat
jalan lintas tengah sumatera setelah tanjakan tarahan Panjang sebelah kiri
sebelum sampai ke sido mullyo lampung selatan.
Dan
mereka ini masing masing membawa harta pusaka dari way mengaku, berupa pedang untuk
yang ke penggawa lima tengah membawa pedangnya sementara yang ke tanjungan itu
membawa sarungnya pedang tersebut.
Dan
kisah dari salah satu ini pernah mencuat kepermukaan yaitu saat kakak sepupu
saya (syamsul bahri alm-pernah kerja di
bkkbn lampung utara kotabumi) sekolah di
bandar lampung dia berteman dengan kawan kawannya dari tanjungan lampung
selatan saat merantau sekolah di bandar lampung dan mereka tahu kalau kakak
sepupu saya itu asalnya dari daerah liwa lampung utara saat itu (negeri agung).
(Saya terangkan sedikit dizaman itu dari liwa berangkat jam 7.00 sampai badar lampung
jam 5.00 sore. Jadi masih sepi dan terasing)
Dan
kawannya yang dari tanjungnan itu sempat mengatakan dan bercerita bahwa asal
musal mereka dari way mengaku liwa lampung utara dan mereka punya bukti yaitu
sarung pedang, sarung pedang itu di kerumuni tawon “mengingok tabuan” yaitu
tawon kecil yang sangat berbisa. Dan satu hal kata mereka waktu itu bila asli
orang keturunan dari way mengaku walaupun di pegang di elus tawon tawon
tersebut tidak akan bahaya seperti layaknya taon pada umum nya tetapi beda juga
halnya bila bukan asli keturunan way mengaku,
minimum kalau kena tangan bengkak bengkak akibat tawon tersebut sebagai bahan pertimbangan
bila mana pas ada kebetulan ketempat itu yang ingin mencoba bila bukan asli
keturunan lebih baik jangan dipegang tawonnya.
Selanjutnya
mereka mengatakan bilamana sarung pedang itu ketemu dengan pedangnya kita akan
pesta besar kata mereka waktu itu, kata tuha tuha kampungnya di tanjungan kita
potong kerbau kalau sarung pedang ini ketemu dengan pedangnya, tapi karena
daerah terpencil ya tetap susah akan ketemu akses jalan jauh dan kerabat
terputus dan juga ada kemungkinan besar tersesat itu.
Dari
cerita tersebut diatas saya uraikan untuk menguatkan saja jalur kekerabatan
masa lampau itu ada dan saat ini banyak kesibukan masing masing apalagi dunia
semakin sibuk dan maju, zaman sudah berobah akan tetapi bilamana ada kekerabatan
yang ingin menjalin kembali tali keluarga tersebut itulah jalur ceritanya,
Wallohualam.. terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar