Kita semua di muka bumi pada dasarnya ada silsilah keturunan
nya hingga sampai pada kita saat ini, kalau dari pandangan agama namanya disebut
silsilah dan biasanya kita sebagai wujud dari rasa bhakti dan terima kasih kita
kepada leluhur maka kita kirim do’a dan tujuannya kirim doa dengan jalur
menelusuri silsilah agar selalu nyambung dan kita tidak dalam kategori sebagai
keturunan yang durhaka karena tidak mau mengakui jalur silsilah anak beranak
keturunan jalur yang kita punya dengan banyak alasasan yang tidak bias kita
ungkap karena masing masing punya alasan masing masing untuk mengakui.
Sementara kalau dalam adat istiadat biasanya
dituangkan dalam bentuk panji yang tertulis yaitu dalam tulisan yang dituangkan
pada kulit kayu, kulit binatang, gading dan banyak media lainnya tempat
menuangkan jalur silsilah tersebut umumnya disebut tambokh dalam bahasa Lampungnya.
Demikian juga pada keluarga besar kami setelah pesta
irau usai yang saya pernah tulis diartikel sebelumnya di daerah kidupan pering
belabark dan mereka memecar di berbagai daerah provinsi lampung hingga provinsi
banten, setelah kegiatan itu usah maka silaturahmi dengan tokoh tokoh spiritual
mereka bertujuh saat itu tetap berlanjut dengan memanggil dengan cara acara hadat
dan agama yaitu memanggil mereka dalam suatu tempat yang kami sebut sebagai Tumpat
kalau di jawa orang menyebutnya keramat petilasan tempat untuk bertemu secara
spiri tual karena jasad tak biasa bersua.
Bagaimana tata cara kami memanggil mereka, seperti
biasa sesuai dengan yang diajarkan dari masa ke masa hingga saya saat ini yaitu
panggilan dengan nama nama yang melekat pada mereka sebagai panggilan pengurau disebut satu
persatu dengan bahasa lampung yang halus dan penuh adab dan dibacakan Patehah juga
disertai dengan membuat beras kuning atau beras yang di aduk dengan kunyit
hingga berwarna kuning ditaburkan di sekeliling tempat kita mengadakan kegiatan
tersebut (tumpat).
Pada zaman kakek buyut kami dahulu komunikasi dengan
tian pitu jong ini bisa sampai terdengan suara tapi jasad tak nampak, mungkin
dunia saat itu masih bersih dan terjaga bersih alam bersih pikiran bersih
perbuatan, yang saya ingat pesan datuk kalau akan ke tumpat jangan hari kamis
sore sampai sabtu sore karena mereka bertujuh sedang berada di masjidil haram
mekah, jadi datanglah pada hari senin selasa dan rabu, tujuan kedatangan juga
biasanya bila punya hajjat besar seperti pesta besar atau bencana melanda kedua
nya mohon diawasi diajuhkan dari hal hal yang tidak diinginkan selama kegiatan
berlangsung
Ada satu contoh yang biasa di praktekkan anak cucung
buyut yaitu saat perjalanan dalam hutan rimba belantara, bila tersesat biasanya
kami memanggil segundang caring, maka aka nada wujud harimau putih pincang yang
berbunyi, dan kita mengikuti bekas kaki nya dan suara harimau itu berasal
hingga kita ketemu kembali sebuah jalan atau talang atau dukuh dalam hutan yang
ada jalur untuk pulang kembali ke rumah.
Dan bilamana juga dalam sebuah perjalanan tidak bisa
melintas karena ada sungai besar dan banjir maka kami panggil sebutan yaitu se
kutuni way maka mereka datang dalam bentuk buaya dan kami bias menumpang naik
diatas punggungnya untuk menyebrang banjir tersebut.
Dalam sebuah perjalanan luar kota juga pernah di alami
oleh Dang Arif Maryadi (alm) beliau berdua Yuzan pasar liwa berangkat ke pulau bali
waktu itu masih bujang jadi jalan jalan hanya dengan modal nekat, nasip malang
dalam perjalanan pulang di kereta api dang arif bermasalah dengan preman di
gerbong kereta api saat pulang dari pulau bali saat itu, dan di keroyok oleh
orang orang satu gerbong kereta kata dang saya hanya mengingat mereka bertujuh hingga
di lemparkan oleh preman dari gerbong kereta keluar dan begitu saya sadar kata
belau sudah berada di rumah sakit asli cuman itu saya minta perlidungan saya
panggil mereka pitu jong untuk melindungi.
Nah itulah sekelumit kegiatan keturunan kami hingga
saat ini yang tetap bertahan walaupun dunia sudah modern tatpi kami tidak lupa
dengan tradisi tersebut sesekali datang ke tumpat memanggil serta mengirim
alpatehah kepada mereka. Dan juga berharap sebagai anak keturunan nya kami bias
berkumpul kembali Bersama wallohualam semoga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar