Senin, 19 Oktober 2026

TIAN PITU JONG - TUJUH TOKOH SPIRITUAL KELUARGA KAMI

 

Kita semua di muka bumi pada dasarnya ada silsilah keturunan nya hingga sampai pada kita saat ini, kalau dari pandangan agama namanya disebut silsilah dan biasanya kita sebagai wujud dari rasa bhakti dan terima kasih kita kepada leluhur maka kita kirim do’a dan tujuannya kirim doa dengan jalur menelusuri silsilah agar selalu nyambung dan kita tidak dalam kategori sebagai keturunan yang durhaka karena tidak mau mengakui jalur silsilah anak beranak keturunan jalur yang kita punya dengan banyak alasasan yang tidak bias kita ungkap karena masing masing punya alasan masing masing untuk mengakui.

Sementara kalau dalam adat istiadat biasanya dituangkan dalam bentuk panji yang tertulis yaitu dalam tulisan yang dituangkan pada kulit kayu, kulit binatang, gading dan banyak media lainnya tempat menuangkan jalur silsilah tersebut umumnya disebut tambokh dalam bahasa Lampungnya.

Demikian juga pada keluarga besar kami setelah pesta irau usai yang saya pernah tulis diartikel sebelumnya di daerah kidupan pering belabark dan mereka memecar di berbagai daerah provinsi lampung hingga provinsi banten, setelah kegiatan itu usah maka silaturahmi dengan tokoh tokoh spiritual mereka bertujuh saat itu tetap berlanjut dengan memanggil dengan cara acara hadat dan agama yaitu memanggil mereka dalam suatu tempat yang kami sebut sebagai Tumpat kalau di jawa orang menyebutnya keramat petilasan tempat untuk bertemu secara spiri tual karena jasad tak biasa bersua.

 

Bagaimana tata cara kami memanggil mereka, seperti biasa sesuai dengan yang diajarkan dari masa ke masa hingga saya saat ini yaitu panggilan dengan nama nama yang melekat pada  mereka sebagai panggilan pengurau disebut satu persatu dengan bahasa lampung yang halus dan penuh adab dan dibacakan Patehah juga disertai dengan membuat beras kuning atau beras yang di aduk dengan kunyit hingga berwarna kuning ditaburkan di sekeliling tempat kita mengadakan kegiatan tersebut (tumpat).

 

Pada zaman kakek buyut kami dahulu komunikasi dengan tian pitu jong ini bisa sampai terdengan suara tapi jasad tak nampak, mungkin dunia saat itu masih bersih dan terjaga bersih alam bersih pikiran bersih perbuatan, yang saya ingat pesan datuk kalau akan ke tumpat jangan hari kamis sore sampai sabtu sore karena mereka bertujuh sedang berada di masjidil haram mekah, jadi datanglah pada hari senin selasa dan rabu, tujuan kedatangan juga biasanya bila punya hajjat besar seperti pesta besar atau bencana melanda kedua nya mohon diawasi diajuhkan dari hal hal yang tidak diinginkan selama kegiatan berlangsung

 

Ada satu contoh yang biasa di praktekkan anak cucung buyut yaitu saat perjalanan dalam hutan rimba belantara, bila tersesat biasanya kami memanggil segundang caring, maka aka nada wujud harimau putih pincang yang berbunyi, dan kita mengikuti bekas kaki nya dan suara harimau itu berasal hingga kita ketemu kembali sebuah jalan atau talang atau dukuh dalam hutan yang ada jalur untuk pulang kembali ke rumah.

Dan bilamana juga dalam sebuah perjalanan tidak bisa melintas karena ada sungai besar dan banjir maka kami panggil sebutan yaitu se kutuni way maka mereka datang dalam bentuk buaya dan kami bias menumpang naik diatas punggungnya untuk menyebrang banjir tersebut.

Dalam sebuah perjalanan luar kota juga pernah di alami oleh Dang Arif Maryadi (alm) beliau berdua Yuzan pasar liwa berangkat ke pulau bali waktu itu masih bujang jadi jalan jalan hanya dengan modal nekat, nasip malang dalam perjalanan pulang di kereta api dang arif bermasalah dengan preman di gerbong kereta api saat pulang dari pulau bali saat itu, dan di keroyok oleh orang orang satu gerbong kereta kata dang saya hanya mengingat mereka bertujuh hingga di lemparkan oleh preman dari gerbong kereta keluar dan begitu saya sadar kata belau sudah berada di rumah sakit asli cuman itu saya minta perlidungan saya panggil mereka pitu jong untuk melindungi.

Nah itulah sekelumit kegiatan keturunan kami hingga saat ini yang tetap bertahan walaupun dunia sudah modern tatpi kami tidak lupa dengan tradisi tersebut sesekali datang ke tumpat memanggil serta mengirim alpatehah kepada mereka. Dan juga berharap sebagai anak keturunan nya kami bias berkumpul kembali Bersama wallohualam semoga.



Tidak ada komentar:

TIAN PITU JONG - TUJUH TOKOH SPIRITUAL KELUARGA KAMI

  Kita semua di muka bumi pada dasarnya ada silsilah keturunan nya hingga sampai pada kita saat ini, kalau dari pandangan agama namanya dise...