SURAI CAMBAI

Zaman tumbai, wat cerita jelema 3 manak tinggal di lom pulan rua anakni sekitaran umuran sai tuha 4 tahun terus sai ngura umuran 1,5 tahun.

Dilom keluarga seno besepok lom pulan, kondisini dirani sai, tian telu manak mak ngedok kani'an/makanan berupa bias sai haga pakai nyunjong, uleh ni keperitukanni. uleh senolah Mak ni tian rua madek no jeno midor lom pullan nyepok bias.

Sementara tian rua madek juga besepok, muneh sehinnga betunggalah sai gelarni Sekala induh kik bahasa indonesiani sekalaji kidang rasani peros ireh, kik sai lagi mengura warna dilomni mehandak injuk bias/mi, senolah sai diusung tian rua madek mulang mit kubu,...

Sesampai di kubu sekala sai lagi menguira seno dikanik tian rua madek daleh tabor biar mak karuan, na halok belepotan mak tanntu lah kik bahasa indonesiani,.. sehingga sampailah makni mulang muneh jak nyepok bias/nasi jeno ngehalu tian rua madek radu jak nganik sekala daleh bertaburan mit dipa-ipa,....

Penyanani makni sekala seno bias/mi maka singkuhlah makni jama anak ni tean ruano, hingga makni mutusko nyak haga lijung gaoh lah kik keti mak sayang lagi jama nyak,. ani masa bias titabor-taborko reno sedangkan nyak nyepok mak mangsa-mangsa bias sa sampai tano ani.

lijung ni makni yado aga mit batu tangkup khabar ceritani kik radu kuruk lom batu tangkup seno mak dacok luar lagi,...... (mungkin rang bunuh dirilah kasarni cawa)

Kelijunganni makni ditunggu makni di bahni buah/pinang, sambil nutuki makni sanak rua seno, buhiwang-hiwang ngucakko lain udi kik mi ina kittu sekala rememi, reno muneh jama adekni jeno sambil miwang kekala dibabaini rik kekala diiring keni adekni mani lagi sanak, niku adek ani tiiringko melegoh tibabai radu mesedor,.... maka betunggalah jama Ina ni jeno di bah buah/pinang, sanak rua seno disumpikni daleh dihinok keni sampai sanak rua no hinok, kak radu jak seno makni berangkat luwot lijung sampai dibah batang ni buah/pinah sai bareh agak mejaoh jak rangni pinag/buah sai mena, sanak rua jeno minjak jak pedomanni ulehni buah pinang sai gugor atau bulungni buah sai gugor, laju lowot sanak rua jeno nyepoki Ina ni, sambil jalan pulelegoh rik buhiwang-hiwang injuk pertama jeno luot.
renolah kejadiani berualang-ulang hingga sampai di rangni batu tangkup,... waktu di batu tangkup seno sai luar jak batu tangkup ikah kelimpuni makni, sai dihalu tian rua madek jadi senolah sai di kecup-2 tian rua madek.


tambahan cutik :
Warah cerita sinji biasa diusung Datuk ku tumbai daleh sepepiyohan kak mulang jak darak atau sabah, tujuanni yaddo nyin sanak mekahut jama ulun tuhani daleh adek-adekni kik pandai ngewarah keni jama sanak adu pasti sanak sai turuk miwang nengis warah sinjji daleh sai pasti kahut ireh jama ulun tuha rik adek kakakni. renolah cara-carani jelema tumbai ngelajar sanak disamping seno sanak juga ngepepiyoh/ngurut tamong atau kajjongni kak dibingi bakda Isya.

LEGENDA KELEKUP GANGSA ULAR NAGA DI DANAU RANAU


Pada zaman dahulu kala sekitar awal adanya penduduk yang mendiami Pekon Way Mengaku, sekitar keturunan yang ke III, (anak-anak dari sebuay). sebagaimana dalam sejarah bahwa suami dari sebuay adalah seorang laki-laki dari Gunung Aji Ranau,. yang datang ke Pekon Way Mengaku dan menemukan jodohnya pada Se Buay dalam bahasa lampung "Bakas Semanda" yaitu seorang perempuan yang mengambil seorang laki-laki dan dalam hidupnya sehari-hari kegiatan keluarga secara utuh mengikuti pihak istri bahkan hingga akhir hayatnya.

Dari perkawinan tersebut lahir 7 (tujuh) orang anak semuanya laki-laki yang masing-masing punya panggilan/ pengurau :
  1. Umpu Suat;
  2. Se Bebigor;
  3. Se Batin Balak;
  4. Se Mandi Walay;
  5. Se Ujan;
  6. Se Jambi dan
  7. Se Gundang Caring atau Sekutu Ni way.
Ketujuh orang anak-anak dari Se Buay tersebut bagi kami anak keturunannya memanggilnya dengan nama panggilan "Tian Pitu Jong" mereka berpencar untuk meneruskan kehidupan di luar Pekon Way Mengaku ke seluruh penjuru Daerah Provinsi Lampung bahkan sampai Provinsi Banten , hingga kini yang masih terlacak dan kami ketahui posisi dari 6 keturunan yang lainnya dari adik-adiknya yaitu berada di :
  1. Tanjung Heran Sukau;
  2. Penggawa Lima Tengah Krui dan Sekuting Liwa;
  3. Ngambur Krui;
  4. Pangkul, Way Gelang Semaka (Tanggamus);
  5. Tanjungan Kalianda (Lampung Selatan) dan
  6. Banton/Provinsi Banten.

Didalam keluarga tersebut ada sebuah barang pusaka berupa kentongan atau disebut dalam bahasa Lampung adalah "Kelekup Gangsa" kelekup gangsa tersebut gunaknya untuk memberi tanda-tanda kepada semua anggota keluarga khusunya pekon pada umumnya, seperti untuk mengumpulkan keluarga, tanda bahaya dll.

Konon cerita kelekup gangsa tersebut bilamana dibunyikan dengan dipukul / ditabuh maka bunyinya akan sampai ke Pulau Jawa sekitar daerah Banton/Banten itulah sebabnya ada salah satu keturunan dari Pekon Way Mengaku yang berada di daerah Banten dan memiliki keturunan hingga kini.

seiring dengan perkembangan maka keluarga pihak asal suami dari sebuay mengetahui akan hal ikhwal ini, keajaiban dari harta pusaka sebuay berupa kelekup gangsa/kentongan sehingga menimbulkan niat kurang baik dari saudara-saudara pihak keluarga (suami se buay) untuk mencuru kelekup gangsa tersebut.

Dalam proses pencurian kelekup gangsa tersebut ada 2 porsi cerita yan berkembang yaitu, Pertama dicuri oleh sekelompok orang (saudara suami sebuay) akan tetapi dalam setiap langkah dari pencurian tersebut ada salah satu anggota pencuri itu yang meninggal dunia hingga akhirnya pada saat sampai di Danau Ranau tinggal satu orang lagi, maka akhirnya kelekup gangsa itu di rendam di dalam air Danau Ranau agar tidak ketahuan orang lain, guna diteruskan perjalanan keesokan harinya dengan memanggil kawan-kawannya. Porsi Kedua yaitu dicuri sekelompok orang tersebut akan tetapi mengingat perjalanan yang jauh dan ditempuh dengan berjalan kaki ditengah hutan belantara maka perjalanan tersebut baru sampai di Danau Ranau pada waktu sore hari, dan demi keamanan juga di masukan di dalam air Danau Ranau untuk diteruskan perjalana pada keesokan harinya. yang jelas dari kedua porsi cerita tersebut berujung pada Dalam Air Danau Ranau.

Pada keesokan harinya sewaktu perjalanan akan diteruskan ternyata, kelekup gangsa tersebut sudah berubah menjadi se ekor Ular Naga.
Itulah seklas cerita tentang legenda Ular Naga di Danau Ranau yaitu milik Pribumi Way Mengaku, dan hingga kini masih melegenda, pada masyarakat Pribumi Asli Way Mengaku, menjadi cerita dan warah dari zaman ke zaman karena tidak ada berupa buku dokumentasi yang mencatat sejarah dan kisah cerita maka jadilah sebuah warahan (cerita zaman dahulu)
Dan itu pula yang menyebabkan enam keturunan yang lainnya hingga kini masih menetap di tempat-tempat yang disebutkan diatas bahkan telah menyebar luas dan mempunyai banyak keturunan, dikarenakan kentongan untuk memanggil pulang dan mengupulkan mereka berupa kelekup gangsa telah berubah menjadi se ekor Ular Naga di Danau Ranau.

 
Catatan :
Di balik gunung  yang nampak di tengah danau tersebut  ada yang namanya TAPIK, gua bawah danau yang menurut cerita tempat bersemayamnya Ular Naga tersebut, bukti yang ada pada keluarga kami kalau waktu menyeberang di Danau Ranau biasanya perahu tersebut tersangkut sementara di daerah Tapik tersebut, dan keluarga kita mengatakan bahwa orang asli dari way mengaku dan mohon izin maka perahu / kapal tersebut jalan kembali, menurut cerita mereka hanya ingin menyapa saja sebentar itu terjadi pada orang tua saya, dan saya juga pernah mengalami ketika perjalanan dari Suka Banjar, ke Kotabatu Ranau perahu sempat mengarah kebawah Tapik tersebut, diiringi hujan panas waktu itu dan saya ingat kejadian-kejadian tata cara masa lampau maka perahu tersebutpun jalan kembali menuju ke arah Kotabatu Ranau..

PESTA IRAW

Pesta Irau yaitu sebuah pesta perkawinan, diselenggarakan cukup besar / pesta yang sangat meriah pada pernikahan anak Sebuay "Sebatin Balak".

Posisi Pesta Irau ini diselenggarakan di daerah kidupan, depan Kejaksaan Negeri Liwa seberang sawah setukung Kelurahan Way Mengaku Kecamatan Balik Bukit. atau sekitar Pering Belabar, pering belabar ini juga sebetulnya berasal dari bambu-bambu yang dipakai waktu acara kelengkapan pesta berlangsung.

Karena acara yang diselenggarakan begitu besar, maka persyaratan yang dibuat juga cukup besar dalam acara pesta irau tersebut yaitu menyembelih seorang perawan (muly) dengan syarat-syarat harus dipenuhi diantaranya yaitu :
1. Lipas Ketara;
2. Tungu sang runcung;
3. Suyuh kegundang;
4. Kebau Belang;
5. Tuma dll.

Dalam menyediakan persyaratan tersebut, selalu saja tidak mencukupi sesuai dengan persyaratan yang telah dibuat sebagai contoh telah disediakan tungu tetapi lipas ketara belum ada, atau kebau belang yang belum ada sehingga setiap kali diupayakan untuk mencukupi persyaratan tersebut selalu saja tidak terpenuhi secara utuh/komplit.

Dengan tidak tercukupinya persyaratan tersebut maka masing-masing mereka pitu jong, sebebigor, umpu suat, sebatin balak, semandi walay, se ujan, se jambi dan sekutu ni way / segundang caring merasa malu dengan keluarga besarnya untuk menghilangkan rasa malu mereka pindah ke lain tempat bahasa Lampungnya disebut Irau.

Jadi setelah kejadian pesta tersebut mereka mengungsikan diri atau disebut irau kelain tempat seperti ke tanjung heran sukau, sekuting, penggawa lima tengah ngambur, way gelang semaka pangkul, kalianda tanjungan dan sampai ke seberang laut didaerah Banten Jawa Barat yaitu sejauh bunyi kelekup gangsa masih terdengan (waktu kejadian ini kelekup gangsa belum dicuri) oleh pihak keluarga dari Bapak mereka yaitu orang-orang dari Gunung Aji Ranau.

Demikianlah sekilas warah cerita pada zaman dahulu Pesta Irau, yaitu rencana Pesta Besar dengan syarat-syarat yang sulit dan akhirnya tidak terpenuhi kemudian membuat malu mereka terus mengungsikan diri Irau jadilah Pesta Irau.

Untuk bukti yang tinggal sekarang, cuma tinggal batu tempat acara itu berlangsung tepatnya ditengah kebun kopi Bapak Ilyas (Pensiunan Pegawai Dinas PU Binamarga) sedangkan pering/bambu belabar telah habis seiring perkembangan penduduk digunakan untuk lanjaran tanaman cabe serta buncis karena daerah tersebut adalah daerah pertanian yang produktif.