DANG LUPA DILAPAHAN, INGOK JAMA SAI TINGGAL

Dilom menempuh kehurian tantu neram rumpok selalu busepok dipa-ipa juga jak sai wat dilom pekon, tetangga pekon di pematang, disabah diatar, diuma bahkan kik dizaman tanno ya sampai di kota, diluar provinsi rik lintas negara kik zaman tanno radu mawek lagi hak menjadi batasan, pokokni dipa juga rangni sai jelas rang busepok haga pakai ngelangsungko kehurian baik untuk keluarga, masyarakat, daleh minak muari seunyinni. Sampai keliling dunia juga mawek menjadi masalah.

Sai tinggal dilom pekon biasani nerusko generasi sai tinggal, baik rukun peranti, guayan serta tatacara hadat istiadat reno muneh ngejaga warisanni ulun tuha nyin selalu tetap terjaga, guayan tanggung jawab serta bebanni kik tinggal dipekon jama urusan minak muari radu tantu lebih berat jak minak muari sai tinggal diluar pekon, bahasa tannoni ya merantau, uleh ngeba tinggal dipekon seno disamping busepok jugani lagi latap jama kegiatan minak muari, haga ngetok ko rani, ngeluarko tenaga reno muneh pemikeran, sai jelas guayan dilom pekon lebih komplek jak sai tinggal diluar pekon. 

Sai kebetulan tanno masih beguai/kerja diluar pekon, merantau radu tantu semakungni wat relaya atau syareat hingga mencapai tempat disuatu perantauan, jalan menuju luar pekonno biasani dibekali pai jama pendidikan kik pak hak ya ikah cutik, ya lunikni pandai ngebaca rik pandai nulis, seno radu tantu menjadi mudal utamani, disan tantu muneh dia lewat jenjang pendidikan tisekulako, kik zaman tumbai ani datuk-datuk tian sekula rakyat SR, kik zaman tanno yaddo SD, atau sai bareh diatas tingkatanni, sai nyekula ko neram radu tantu uluntuha neram dipekon, jadi jak awalni neram ngebuka mata di pendidikan yado jak dimulai di pekon, sekula seno juga biayani uleh ulun tuha busepok, baik busepok didarak sabah atau kebun sehinggoni dapok ngehasilko belanja untuk kelangsunganni sekula neram reno muneh terkdang dibantu ulehni minak muari, ngimpukko belanja kik hak pak cutikya setulungan nyin neram menjadi sekula. Sehinggoni menjadi sekula mangsa pendidikan uleh pendidikan seno ngerubah cara bupiker serta busepok jadilah busepok cara rumpok, di luar pekon, ya mungkin jadi PNS, wiraswasta, pengusaha, politikus, manager perusahaan, direktur, marketing rik sai bareh-barehni mak nyak pandai lagi gelarni guayan kemeno, gelarni nyak jelema pekon mak pandai lagi nyak gelar-gelarni guayan kemeno, induh kik retini, sai jelas masih injuk diawalni jeno busepok pakai ngelangsungko kehurian. Ikkah carani gaoh sai sumang-sumang ya ujung-ujungni busepok intini ya penganik, belanja, daleh nyani anjung/lamban.

Sesuai jama judul sai wat diatas kusemukako jeno na watdo dia lehot kik pak cutik jak sekam sai wat dilom pekon jama minak muari sai wat diluar pekon, sekam sai tinggal dilom pekonji kik tata carani pandai na hak mudah ireh tehuot/tersanjung kik bahasa Indonesiani, sinji wat sai kusaniko jadi contoh jama minak muari jak luar pekon ngulang rasan jak kota ngulang kebayan kebetulan na hak nayuh muneh dipekon, na sekam sai dipekonji radu tantu kik seminggu semakung ni mulang jak kota na sekam sai wat dilom pekon radu timpuk/kumpul jak jaoh jak pasukni sampai jama hari H ni acara seno, mawek peritungan diwaktu, tenaga nguyunko guayai seno sebaga wujud penghargaan rik rasa suka cita jama minak muari sai jak luar pekon.

Jadi renolah minak muari sai tinggal di lom pekon ji selalu ngingok jama minak muari sai radu tinggal diluar pekon, bahkan risok tibimbing walau jarang tiliak ani pribahasa sa walaupun radu tinggal kik pak ya di luar negeri lagi risok juga kak marok ticawako, tidipa kapan ya mulang mit pekon daleh melamon lah, kuk rincini jak betungga atau lewat teleponpun risako ticawako daleh timarokko dilom pemarokan, na harapanni minak muari sai dipekon jama minak muari sai tinggal diluar pekon ya reno muneh lah risok ngingokko sekam sai tinggal dilom pekon.
Lehot jak minak muari di lom pekon, kik pak ya sukses diluar pekon dang kik sampai haga ngelupako skam sai wat dilom pekon kik dacok ya mulang minimal pesan dilom setahun, mungkin waktu buka/lebaran, dang menjadi alasan mani waktu sibuk, mak sempat ulehni guayan melamon, atau api lah sehinggoni betahun-tahun mak pernah mulang kuk sanak mak pandai sepa ajjong jama tamongni uleh ni mak pernah mulang na kik dacok senosa dang sampai terjadi, daleh mak cigani tiingokko bahwa semakungni lumpak mit kota, peranani minak muari, ulun tuha daleh sai bareh-barehni melamon terkadang ngimpuk ko belanja pececutik in dacok sekula gegoh di rumpok kadang nginjam dija dudi mani waktu ngirim belanja aga pakai nisanak sekula na mak muneh ngedok belanja terpaksa ditulung minak muari jadi peranni ulun tuha jama minakmuari melamon ngebani minak muari sampai menjadi injuk tano kondisini di luar kota gegoh baris dirumpok sai jak suku-suku bareh.
Jadi senolah sai berupa umanat rik lehot jama minak muari sai kebetulan tanno lagi wat di luar pekon berusaha di rantauan ria kik pak di kota pai rangni netokan dang zampai ngelupako asal muasal daleh silaturrahmi jama minak muari sai dilom pekon tinggal sesuai nihan injuk judul sai ku semukako di jenoni yaddo DANG LUPA DILAPAHAN, INGOK JAMA SAI TINGGAL. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kekalau na jak ngebaca tulisan sinji tergerak hatini minak muari untuk mulang mit pekon sai mak pernah mulang, nguyunko pekon walaupun dirantauan mungkin jama pemikiran rik ide-ide sai cemerlang daleh menjalin tali silarurahmi jama minak muari sai tinggal dipekon, semata-mata maksud rik tujuanni untuk kebaikkan neram seunyinni daleh ngejalin tali silarurrahmi tetap erat, walaupun beda jenganan tentuni, mudah-mudahan lagi wat sai setuju, tabik pun jama kutti rumpok.

SEGAGA SAI TUHA

Dalam kehidupan masyarakat adat Lampung di Lampung Barat khusunya yang menjadi ikutan/tutukan adalah yang tertua, demikian juga dalam keluarga yaitu yang tertua dalam keluarga tersebut, dalam adat istiadat juga yang tertua dalam status gelar adat dalam kehidupan adat istiadat tersebut dalam kehidupan keseharian tentunya tidak terlepas dari kegiatan adat istiadat adapun dalam kehidupan diluar kegiatan adat seumpama di kantor, pasar, sekolah dll maka tata cara kehidupan adat harus menyesuaikan dengan kondisi tersebut dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung sangat cocok untuk diterapkan tatkala kita tidak memakai tatacara adat istiadat.

Kepemimpinan adat hanya berlaku bagi sekelompok adat tersebut dan juga didalam kegiatan adat istiadat umpamanya hajjatan baik berupa nikahan, sunatan dll yang masih berkaitan dengan menggunakan kegiatan adat pada pelaksanaannya acaranya, kalaupun seseorang tidak mau memakai acara adat maka yang dipakai acara nasional dan kewenangan adatpun dalam acara tersebut kurang difungsikan, karena statusnya dalam acara tersebut berdasarkan hasil keputusan rapat panitia, bukan rapat adat istiadat, kalau dalam masyarakat adat kewenangannya didalam adat itulah umpamanya seorang raja, maka kewenangannya dalam mengatur terdapat dalam strata dibawahnya yaitu pihak batin-batin yang ada dibawah naungannya, demikian juga dengan seorang suntan maka ia hanya berwenang untuk mengatur kewenangan dibawahnya yaitu raja-raja dibawah kepemimpinan adatnya, lalu bagaimana dengan lain kepemimpinan katakanlah lain dalom/beda suntan, maka harus dilihat waktu itu yang memiliki pekerjaan (gawi adat pada kepemimpinan siapa) maka status yang lain sebagai pihak yang membantu dan tidak berwenang untuk memutuskan sesuatu keputusan adat. Adapun sebagai kehormatan diikutkan saja dalam acara musyawarah adat, sebagai pemberi pertimbangan masukan dan arahan yang sekirannya diterima akan tetapi keputusannya tetap pada pimpinan adat setempat (yang sedang mempunyai gawi adat).

Kalau hal tersebut dapat diterapkan dalam masyarakat adat tentunya tidak akan terjadi benturan-benturan dikarenakan berbeda kepentingan, hukum adat ini tidah tertulis akan tetapi kalau diikuti secara baik tentu tujuannya juga untuk ketentraman, karena masing-masing menjadi pengayom bagi anak buahnya.

Yang membuat sesuatu menjadi sebuah benturan apabila seseorang tersebut tidak mau lagi berpatokan dengan adat yang sebenarnya, biasanya dikarenakan faktor ekonomi yang mafan dan agak berlebih diberikan oleh Allah Swt. Maka disitu timbul suatu keangkuhan dan merasa ke-akuan-nya lebih besar didukung dan diikuti oleh masyarakat sekitarnya yang merasa silau dengan faktor yang namanya faktor ekonomi maka peran adat akan tersingkirkan oleh peran ekonomi tersebut, karena ekonomi bisa mempengaruhi orang, mengarang sebuah cerita dan sejarah, serta berbuat seenaknya dengan kemampuan ekonominya yang dimilikinya.

Peran ekonomi ini saya buat sebuah contoh dan pernah terjadi dalam sejarah pada sa’at panen raya (ngegetas) ada dua orang yang kebetulan secara bersamaan melakukan ngegetas yaitu seorang dalom akan tetapi miskin dan seorang radin tetapi ekonomi berlebih melakukan kegiatan panen secara bersamaan maka semua masyarakat dalam adat tersebut hampir dikatakan akan sebagian besar mengikuti radin menolong radin tersebut karena masyarakat akan lebih silau dengan ekonominya.

Demikian juga dalam gawi adat sekalipun seorang radin akan meminta dalam proses arak-arakan jalan pengantin tentunya agar dibuat lebih meriah karena dalam acara gawi adat tentunya dengan ekonomi yang berlebih akan membuat suasana lebih meriah dan lebih wah seorang radin tersebut meminta agar waktu jalan memakai jalannya raja (diregahko raja) dengan pernak pernik kelengkapannya yang memang agak lebih dari seorang radin dan juga faktor untuk menghilangkan seorang diatasnya seumpama seorang batin yang biasanya juga kurang berperan dalam adat juga karena faktor ekonomi yang agak kurang.

Demikian juga dalam sekala yang lebih besar antar kepala hadat/suntan baik didalam dan juga antar pekon dan lain-lain, banyak saya perhatikan seseorang kepala hadat yang sebenarnya juga sengaja tidak diperankan dalam kegiatan dikarenakan kepala hadat tersebut miskin, demikian juga dengan cerita dan sejarah sengaja dikarang dengan sesuatu yang dibuat versi baru, sering saya perhatikan ada suatu perdebatan antara cerita sejarah yang sebenarnya dengan versi cerita orang tua dan cerita yang dikarang dengan sebuah catatan maka akan lebih kuat certita yang dikarang dan diterbitkan dalam sebuah buku walaupun kenyataannya versi buku lebih kepada sebuah karangan baru oleh penulisnya dari pada berpijak pada sejarah ini lebih merajalela dizaman oede baru dimana banyak pemimpin menerbitkan buku sendiri-sendiri dengan versinya sendiri padahal banyak yang lebih mengerti dengan hal ikhwal yang sebenarnya akan tetapi ceritanya tidak menarik karena tidak bisa menyusun kata-kata yang indah maka musnahlah cerita yang sebenarnya tersebut. Perdebatan tersebut pernah saya dengar dengan bahasa yang keluar dari pihak yang mempercayai versi baru (karangan buku) “dang niku ngacicak jama cerita karanganmuno kanah niku tekawa radu wat versini pemerintah rik radu diakui serta disahko pemerintah tutuk ria sai radu disahko pemerintah ingok kanah niku tekawa” begitu yang pernah saya dengar perdebatan tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesianya yaitu jangan kamu sering-sering bercerita seperti itu nanti kamu dipenjara karena cerita tersebut telah ada dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh Pemerintah dan diakui oleh pemerintah jadi sudahlah ikuti aja yang sudah ada gak usah macam-macam ingat nanti kamu dipenjara, itulah kurang lebih maksud dan maknanya kalimat diatas.

Dari uraian yang saya buat secara singkat diatas tersebut apa sebenarnya yang terkandung didalam makna kisah-kisah tersebut diatas, tidak lain sebuah kehormatan semu kehormatan yang dibuat bukan berdasarkan kisah dan tanggung jawab yang sebenarnya, dimana karena yang dituakan maka dialah yang dihormati maka timbullah untuk membuat suatu cerita agar menjadi yang tertua karena yang tertua biasanya bisa memimpin dan mengayomi dan akhirnya dihormati, maka timbullah upaya untuk selalu berbuat dan berupaya menjadi yang tertua dalam bahasa Lampung yaitu SEGAGA SAI TUHA.

Harapan saya mari kita gali lagi sejarah yang sebenarnya ke-otentikan sejarah yang sebenarnya walaupun miskin kalau memang dia yang berperan didalam daerah tersebut ayo kita dukung, jangan terus menerus untuk tersesat sementara kita tau sendiri kita tersesat dan tidak mau berobah dan mengakui kita tersesat karena faktor gengsi / harga diri yang berlebihan, sejarah adalah sebuah peradaban dan cerita yang berlaku saat itu bukan sebuah karangan, karena dunia selalu berputar pada porosnya aturannya sudah ditentukan oleh Tuhan Allah SWT. memang untuk faktor ekonomi selalu berputar ada kalanya seseorang mempunyai ekonomi lebih dan ada kalanya pasa-pasan bahkan kurang janganlah faktor ekonomi sengaja mengaburkan keberadaan sejarah yang sebenarnya. KARENA SEMURAH APAPUN YANG NAMANYA KOPIYAH AKAN DIPAKAI DIKEPALA, DAN SEMAHAL APAPUN YANG NAMANYA SEPATU TETAP AKAN DIPAKAI DI KAKI. Wallohualam semoga masih ada yang setuju....

SEJARAH DAN WILAYAH-2 TEMPAT BERDIRINYA PEKON WAY MENGAKU

Pulau Pinang;

Ini adalah lokasi Pekon Way Mengaku pertama kali, lokasinya berada di Pulau Pinang seberang sawah dibelakang Radio Mahameru dan daerah luarnya sudah berubah nama menjadi Suka Menanti, batas wilayah pertama kali yaitu di Batang Cempedak (bahasa lampungnya batangni nenakan) yang tumbuh di pinggir lapangan Negara Batin Pasar Liwa (Depan Polsek Balik Bukit), batang cempedak tersebut hingga tahun 1990 masih ada dan tumbuh besar batangnya besar ,enjulang tinggi..

Pering Belabar;

Pering belabar ini bertempat di seberang sabah setukung kalau ditarik lurus dari jalan raya dua jalur Liwa Way Mengaku mungkin seberang Kejaksaan Negeri Liwa, disini juga pernah berdiri Pekon Way Mengaku, dan ditandai dengan Pesta Irau, Prasasti tempat rencana menyembelih gadis pada pesta tersebut hingga saat ini masih ada yaitu dikebun kopi Bapak Ilyas berupa batu yang berdiri dan tidak terawat.

Pekonan ;

Lokasi ini bertepatan di Gang Pekonan, didekat jurang mengarah kesawah juga masih ada perkuburan masyarakat pekon dahulu kala, dan pernah berdiri perkampungan Way Mengaku semenjak pindah dari lokasi Pering Belabar .

Pekon Tuha;

Yaitu berada dibelakang perkampungan Way Mengaku saat ini lokasinya yaitu disepanjang jalan dari simpang serdang menuju SDN 1 Way Mengaku lokasi tepatnya yaitu berada di samping sawah atar penganti, nama aslinya dahulu disekitar daerah atar keniray dah setelah dari tempat itu bergeser ke tempat yang sekarang ini yaitu di jalur dua yang menghubungkan antara Pasar Liwa dan Way Mengaku kalau dahulu jalan raya Liwa – Ranau, sekarang menjadi bernama Jalan Raden Intan.

Itulah sekilas cerita tentang tempat-tempat Pekon Way Mengaku dimasa lampau, dan daerah–daerah tersebut mempunyai nama-nama asli sebelum dirobah menjadi nama-nama baru oleh orang-orang yang tidak mengerti sejarah serta tidak memiliki kepentingan terhadap sejarah tersebut, akibat yang timbul yaitu beberapa kali terjadi pergeseran tapal batas pekon, itu dampak yang nyata terjadi baik yang berbatasan dengan pasar liwa begitu juga dengan yang berbatasan dengan Pekon Balak Padang Cahya disamping membuat rancu tentang peta wilayah dikarenakan sebagian besar masyarakat tidak mau dan tidak perduli dengan pekonnya yaitu pekon Way Mengaku untuk itu mengguggah saya untuk sedikit berbuat tatkala saya bertugas sebagai anggota LHP (Lembaga Himpun Pemekonan).

Upaya mengembalikan nama-nama tersebut telah pernah saya buat berupa peraturan pekon, yang ditandatangani oleh Pihak Peratin dan Anggota LHP dikala itu, dan Way Mengaku belum berobah menjadi Kelurahan masih pekon dan kepalai oleh seorang Perwatin yang dipilih langsung oleh masyarakat yaitu Bapak Abdul Kodir, peraturan tersebut lengkap dengan lampiran peta pekon serta lampiran nama-nama wilayah tersebut dengan nama lama berobah menjadi nama-nama baru serta didalam peraturan tersebut saya kembalikan kepada nama-aslinya, yaitu nama yang berdasarkan sejarah terbentuknya wilayah (nama wilayah lama).

Demikian sejarah singkat tentang wilayah pekon Way mengaku, agar kita mengetahui sejarah tersebut dan sedapat mungkin merasa memiliki serta menjunjung tinggi sejarah keberadaan tempat wilayah sebagai identitas warga pribumi dan suku yang mendiaminya, karena kalau kita berdasarkan sejarah dalam menentukan wilayah serta batas-batas wilayah tentulah tidak akan terjadi kerancuan serta pergeseran tempat tidak ada yang merasa dirugikan oleh ketidak tahuan seseorang yang mengatas namakan pekon hendaknya selalu berkoordinasi dan meminta petunjuk terhadap orang-orang tua yang betul-betul mengetahui wilayah tersebut khususnya di wilayah Way Mengaku.